Minggu, 08 Juli 2012

Rindu Sahabat

Sahabat, semua hanya masalah waktu memang. Kelak, ketukan-ketukan waktu akan mengaitkan perjumpaan kita di lembaran ibu waktu yang lain.

Kau tahu, sahabat ku?
Kali ini butiran bening merembes lagi dari kaki langit. Mereka merembes, basah, dingin mengalirkan jutaan kisah tentang kita. aku ingin memutar memory pada sepotong kisah tentang kebersamaan kita yang telah dicatat oleh kitab-kitab sebelumnya. seonggok bahagia, secuil duka dan seribu gelak tawa, ya. itu hanya sepotong dari episode persahabatan kita,.
Hujan selalu begitu ya?  selalu menjadi penghantar molekul-molekul rindu di antara hati-hati kita. mengalirkan suatu rasa yang entah apa yang membuatku merasakan ada sungai-sungai mengalir dalam dada, sungai-sungai cinta,.  kau merasakannya jua kan Sahabat?

Aku terjebak dalam satu situasi, dimana rindu menggempakan satu organ di sini, di dalam ini, di jiwaku, mengusik dan merongrong jiwa-jiwa damaiku. Bayangmu Sahabat, yah, bayangmu yang ternyata selalu menohok tepat di ulu perasaku.

Sedikit pesan dari sebuah lorong penghantar malam ini, ijinkan ia merambat masuk dalam pikiranmu. Sahabatmu, di sini, tak akan pernah lelah merinduimu.

Coba tengadahkan mukamu ke arah langit dan lihat bebintang penyampai rindu ku,
coba intip dari jemdela kamarmu, ada rembulan. di situ ku ukirkan wajah kita.
dan rasakan angin menyepoi kerinduan kita,.

Senin, 23 April 2012

Salahkah aku menangis karna semua ini?
lemahkah aku?
tidak! air mata itu fitrah
dia bisa keluar kapan saja,
dari mata siapa saja,
dari mata presiden bahkan dari mata rakyat kecil sekalipun
dari mata dosen maupun mahasiswa,
dari mungilnya bayi hingga mata lansia
terlebih jika kita berbicara sesuatu yang menyangkut dengan hati dan perasaan
semoga ini tak membuatku dendam padanya

Rabu, 04 April 2012

Guru!

susut badannya kau saksikan duhai sang masa,
legam kulitnya kau bakar hai bola kuning,
cekung matanya berlarut malam,,
demi kau hai tunas negeri
jangan kecewakan manusia buruk lagi legam yang cekung matanya.
wujudkan mimpinya!
jadilahpelurus-pelurus bangsa ini.

kita,, saling!!!

Tak perlu menangis saat kerjamu tak dihargai orang,,,
tak perlu bersedih saat perhatianmu dianggap biasa,,,
dan tak perlu membenci saat hatimu diluluh lantakkan olehnya....
toh semua yang kamu lakukan bukan karena dia, tapi karena Allah, itukan yang selalu kamu ucapkan padaku saat ku kecewa dulu?
dan kini mungkin kau terlupa,,,, dan aku yang mengingatkanmu, 
"saling mengingatkan dikala lupa"







Selasa, 03 April 2012

Tali itu kurasakan longgar

yang kurasakan kini tak seperti dulu,
tali yang kita ikat dulu, sekarang terasa longgar,
hati-hati yang dulu menyatu, sekarang tlah terbelah,
hati-hati tak saling mencinta,
mungkin,,,
ikatan yg dulu erat sekarang telah longgar.
bukan ratapan "kenapa ini harus terjadi" yang ku sesalkan,
tapi . . .
"caraku menpertahankan dan kelemahanku menjaganya"

Peranku, calon guru!

Seperti air yang menyirami tunas-tunas bangsa,
Seperti alat pengasah pisau-pisau 2B,
Seperti api yang membarakan semangat UN,
dan seperti petir penyongsong April,
ya, baru sebatas ini pengabdianku sebagai calon guru,
menyemangati belum membimbing, jembatan "mu" dengan "motivasi"

Kamis, 08 Maret 2012

Berjuanglah!


Berjuanglah, karna jalan itu masih panjang!
Bejuanglah, karna jalan itu penuh kerikil!
Berjuanglah, karena tikungannya semakin tajam!
Berjuanglah meski meneteskan air mata!
Berjuanglah hingga lelah itu lelah mengikutimu!
Berjuanglah hingga akhir!
Bejuanglah! Karna aku selalu mendo’akanmu dari sini…
Berjuanglah! Hingga kau kembali kesini dengan prestasi itu.

Kamis, 01 Maret 2012

Bersinergi dengan alam


Bergerak pagi bersama mentari
Menyinsing, menyinari bumi
Terbang bersama semilir angin
Menyonsong masa depan
Menyirami bumi bak rintik hujan
Perlahan tapi pasti!
Menggenangi tanah tandus bumi kita
Membuatnya penuh subur
Menghamparkan hijaunya rerumputan
Hingga semua mata tak kan terkedip
Walaupun untuk sedetik!
Ya, kita bisa lakukan itu.
Yakinlah kita bisa
Tahukah kau kawan?
Dari mana kita bisa supply energy itu?
Dari Sang Maha Segalanya.
Pantaslah kita berucap syukur
Bukan begitu kawan?

Mimpi,,,



Aku tak bisa tidur, mungkin tak mau tidur atau malah terpaksa tidak tidur! Tapi kelopak itu perlahan mengatup. Dalam sekejap aku telah terbuai dialam mimpi, alam yang sangat indah, tidur diantara bunga yang bermekaran diiringi semilir anginnan syahdu dan alunan percikan air bak instumen rileksasi, dan bertemu dengannya lagi. Dia yang selalu mengusap setiap bulir embun di mata ini.
Aku tak bisa makan, mungkin tak mau makan atau malah terpaksa tidak makan! Tapi 2 bibir itu merapat perlahan, merasakan manisnya madu dan nikmatnya sepotong roti. Tak terasa aku telah duduk disudut bukit permadani hijau. Menatap luas pemandangan indah, tapi kenapa? Berkabut?
Aku tak bisa minum, mungkin tak mau minum atau malah terpaksa tidak minum! Tapi air itu mengalir membasahi tenggorokan yang sedianya gersang, perlahan kusadar, aku sedang berada dalam tumpukkan butiran tirta bening.
Dan aku terbangun! Tapi ada satu rahasia yang belum kusebutkan, dan ini nyata! Bukan sulap bukan sihir dan juga bukan mimpi. Aku berhasil membuat pulau!!!
Walau hanya diatas bantal……

Mungkinkah ini terjadi lagi??



Untuk orang yang tersakiti hatinya…
“Apa kabar? Bagaimana imannya, masih istiqamahkan?”
Ingin rasanya ku berbincang lagi denganmu, tapi aku terlalu egois walau sekedar untuk menyapa, aku terlalu angkuh walau sekedar untuk mengintip wajahmu. Dan aku tau!
Maaf aku terlalu keras menasehatimu, oh tidak tidak, bukan menasehati tapi sekedar mengingatkan. Hingga kata-kata itu membuatmu berlalu dari hadapanku, pergi tanpa bicara.
Mungkin aku terlalu jahat, tak pahami keputusanmu. Dan menjauh darimu! Hingga punggung kita seperti dua kutub magnet yang sama, saling tolak-menolak.
Andai kau tau, saat itu aku tak bermaksud menyakiti siapapun, seorangpun ter masuk kamu. Aku mengingatkan karna aku khawatir kau sedikit terlupa.
Tapi apalah lagi, semua sudah terjadi seperti ini. Meski ku tak ingin kejadian ini menimpaku lagi. Aku hanya mempersiapkan diri jika itu memang benar-benar terjadi, mungkin kemaren dia, sekarang kamu dan selanjutnya 2 temanku.
Selama “egois” itu masih becokol di dada kita berdua, kita takkan pernah seperti dulu lagi! Aku tau itu, tapi aku tak mampu!
Hanya bisa berdo’a “Ya Allah tuntun hamba menguasai keadaan tanpa harus menyakiti hati siapapun” semoga tak ada lagi hati yang tersakiti!

vam,tipus,mag stadium lanjut, paru2



 Maaf aku tak bisa menjenguk,
 Maaf aku tak ada di sampingmu saat itu,
      dan saat ini…
 Maaf aku tak tahu,
Maaf aku baru tahu kemaren,
Maaf aku tahu kau punya 4 penyakit,
dan maaf aku tak bisa obati.
Maaf ku hanya bisa kirimkan do’a,
Maaf ku hanya bisa tatap fotomu,
Maaf ku hanya bisa baca tulisanmu,
Maaf ku tak menghubungimu,
Maafkan aku!